ku posting apa yang ingin ku posting

muhammad's posts with tag: tertawa gak

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag tertawa gak
Posted by muhammad on Oct 20, '06 6:27 AM for everyone


Salam kenal dan semoga rahmat Allah selalu menyelimuti semua anggota milis. Pada bulan Ramadan yang penuh hikmah ini, saat kerongkongan terasa kering, perut mulai lapar, kusempatkan membuat humor sufi. Barangkali sudah banyak yang mengenal tokoh sufi Nazarudin, namun saya ingin mengenalkan toko baru dalam humor sufi saya, yakni Sulaiman. Semoga bermanfaat.

 

Palu Hakim

Sulaiman pagi-pagi sudah sibuk. Di pelataran rumahnya, Sulaiman mematik api dan menyulut beberapa kertas, dan kayu.
"Sedang apa, ente?" tanya Ahmad, yang kebetulan lewat depan rumah Sulaiman.
Sulaiman hanya tersenyum. Dia terus saja menumpuk kayu-kayu yang sudah menyala api.
"Buat apa itu?" tanya Ahmad makin penasaran dengan sang sufi itu.
"Saya sedang membakar palu!"
Kontan jawaban tersebut membuat Ahmad kian tidak bisa mengerti.
"Ini palu hakim yang kemarin memutuskan perkara dengan tidak adil. Biarlah saya bakar palunya," jawab Sulaiman. (duh)

 

Makna Bismillah

Tak seperti biasanya, Sulaiman menerima tawaran ceramah. Ini sungguh istimewa. Boleh dikata sangat beruntung majelis taklim tersebut dapat mengundang Sulaiman untuk ceramah. Bagaimana tidak, selain alim, Sulaiman dikenal cerdik dan kesufiannya cukup tinggi.
Para pengunjung sudah tak sabar bagaimana Sulaiman memberikan mauidhotul khasanah. Setelah mengucapkan salam, tiba-tiba Sulaiman menanyakan kepada hadirin.
"Sudahkah yang hadir di sini tahu arti bismillah?"
Hadirin yang rata-rata terpelajar dan cukup santri itu serentak menjawab.  "Tahu..."
Mendengar jawaban itu, Sulaiman segera turun dari panggung sambil berkata. "Saya hanya akan mengajari kepada yang belum tahu."  (duh)

 

Murka Allah

Sulaiman masih duduk terpekur di kursi depan rumahnya. Tiba-tiba Umar datang memberi kabar.
"Aceh kena tsunami."
"Itu karena murka Allah," jawab Sulaiman singkat.
Esok harinya, Umar kembali datang dan memberi kabar.
"Merapi mau meletus."
"Itu karena murka Allah," jawab Sulaiman.
Esoknya lagi, Umar datang pada kondisi yang sama dan langsung memberi kabar.
"Jogja kena gempa!"
"Itu karena murka Allah," jawab Sulaiman sama seperti sebelumnya.
Lagi-lagi Umar datang pada saat Sulaiman duduk terpekur di kursi depan rumahnya.
"Saya mau menikahkan anak saya."
"Itu karena murka Allah."
Mendengar jawaban itu, Umar mau marah. Namun urung saat melihat Sulaiman masih terpekur dengan mata terpejam. (duh)

 

Diskon Satu Rakaat

Suatu hari, Sholeh mendapati Sulaiman salat ashar di musala. Namun dari pengamatan Sholeh, Sulaiman kurang satu rakaat. Dia pun segera mengingatkannya. Sulaiman mendapat peringatan itu, segera menambah satu rakaat lagi.
Hari berikutnya, Sholeh juga mendapati hal yang sama. Sulaiman kembali kurang satu rakaat dalam salat ashar. Dia pun mengingatkannya. Sulaiman juga menambah satu rakaat lagi.
Hari ketiga, Sholeh masih mendapati Sulaiman kurang satu rakaat dalam salat ashar. Tak putus asa, Sholeh mengingatkan Sulaiman kembali. Dan Sulaiman pun manut menambah satu rakaat lagi.
Selepas Sulaiman salam, Sholeh tak bisa menahan rasa penasaran mengapa sufi itu selalu kurang dalam salat asarnya. "Maaf, mengapa anda selalu kurang satu rakaat dalam salat ashar?"
Sulaiman pun menjawabnya. "Salat memang tidak boleh dikurangi maupun ditambah. Anda saja tak sudi saya berusaha mendapat diskon satu rakaat, sehingga Anda selalu saja protes." (duh)


Lebih Bersih

Sulaiman bersama Nurdin mendatangi undangan. Sampai di tempat tujuan, Nurdin memilih duduk di samping orang yang setil dan terhormat. Sementara Sulaiman lebih memilih duduk di samping orang yang biasa-biasa saja, melarat dan kotor. Nurdin heran dengan Sulaiman yang cukup betah ngobrol dengan orang tersebut.
Sepulang dari pertemuan, Nurdin menyempatkan diri bertanya kepada Sulaiman. "Mengapa Anda memilih duduk dekat dengan orang yang kumal?"
"Setidaknya baju putih saya yang sudah lusuh ini nampak lebih bersih." (duh)


Bersyukur dan Bersabar

Sulaiman suatu hari menghadiri undangan pernikahan kerabatnya. Dia langsung menuju di mana kerabatnya tengah bersanding dengan istrinya.
Di hadapan mempelai pria, Sulaiman berujar, "Insya Allah engkau masuk surga."
Begitu pula ketika di hadapan mempelai perempuan. "Insya Allah engkau masuk surga."
Seorang tamu undangan yang mendengar ucapan Sulaiman penasaran dan langsung bertanya. "Mengapa bisa begitu?"
"Mempelai pria masuk surga karena bersyukur mendapat istri yang cantik. Sementara mempelai perempuan masuk surga karena bersabar mendapat pasangan yang buruk rupa. Bukankah orang yang bersabar dan bersyukur masuk surga?" (duh)


Wudlu

Pagi-pagi, Sulaiman mendapati Ghoni, pemuda yang suka ngeyel. Kalau boleh menampar saja, Sulaiman ingin sekali mendamprat mulut Ghoni yang compras-campres. Pagi itu, sifat Ghoni keluar.
"Orang berwudlu itu aneh. Masak kentut, kok yang dibasuh dengan air bagian muka, tangan, kaki, telinga, hidung. Sumber kentutnya kok nda dicebokin. Ini bagaimana?" ujar Ghoni di hadapan Sulaiman. Sulaiman sendiri ogah melayani Ghoni dan lebih memilih melanjutkan jalan-jalan pagi.
Suatu hari, Ghoni ketemu Sulaiman dan mengeluhkan matanya yang sakit parah. Matanya sangat merah. Sulaiman pun berjanji akan menolongnya dengan mendatangkan dokter.
Begitu dokter datang dan siap mengobati Ghoni, Sulaiman berpesan kepada dokter. "Dok, tolong karena yang sakit matanya, suntiklah bagian mata itu. Jangan di pantatnya."
"Lho kok?" tanya dok.
"Biar Ghoni mendapatkan jawaban sendiri soal wudlu." (duh)


Cerai

Sulaiman menjelang sore hari mendapat kabar dari istrinya, bila Mahmud, tetangga yang sering cek cok akan bercerai. Jadi wajarlah, pasangan berumah tangga itu memilih jalan cerai.
"Mahmud akhirnya akan bercerai," tutur istri Sulaiman.
"Sama siapa?"
Tentu saja istri Sulaiman bersungut-sungut mendengar pertanyaan suaminya. Baginya, itu pertanyaan bodoh.
"Lho gimana? kok cerai sama siapa? ya tentu sama istrinya dong? sih sama Kambing ," ujar istrinya yang merasa aneh dengan pertanyaan Sulaiman.
"Karena sudah jelas cerai sama istrinya, saya tak tanyakan itu. Yang belum jelas dan perlu saya tanyakan, sama siapa dia akan
nikah lagi." (duh)


Antara Membuat Masjid dan Keranda

Pada suatu rapat pembangunan masjid di kampungnya, Sulaiman tiba-tiba mengemukakan pendapatnya.
"Sebelum masjid dibangun, ada baiknya kita renungi pembuatan keranda," tutur Sulaiman.
Tentu warga dan panitia pembentukan masjid agak heran dan bingung dengan pernyataan Sulaiman. Apa hubungannya antara mendirikan masjid dengan membuat keranda, pikir mereka. Sampai akhirnya ada salah satu warga yang memberanikan bertanyakan kepada Sulaiman.
"Apa hubungannya membuat masjid dan membuat keranda?"
"Keranda dibuat dengan bagus pun jarang yang mendekati kecuali ada yang meninggal dunia. Bila masjid yang kita bangun tegak berdiri namun jarang dan sedikit yang mendekati, maka sama seperti kita membangun keranda." (duh) 


Mengetahui Takdir

Sulaiman ingin pohon dekat di rumahnya tidak terlalu rindang dan batang-batangnya menyentuh genting rumahnya. Mulailah dia memotong cabang-cabang batang yang menjulur ke rumahnya.
Dirman, tetangganya melihat Sulaiman memotong cabang batang dengan gergaji, namun Sulaiman nangkring tepat di cabang itu. Dirman berteriak mengingatkan Sulaiman.
"Kalau kau terus memotong cabang itu, engkau akan jatuh...!" teriak Dirman.
Sulaiman tak menghiraukan peringatan tetangganya itu. Dia terus saja memotong cabang batang itu sampai akhirnya Sulaiman benar-benar jatuh dari pohon.
Di tengah rintihannya, Sulaiman berkata, "Wah engkau alim sekali sampai mengetahui lebih dahulu takdir yang akan menimpa saya." (duh)

NB: duh, kata dalam kurung itu inisialku: muhammad abduh


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help