Posted by muhammad on Mar 27, '07 1:39 AM for everyone Dalam situs buatanku, http://www.mobilephone.cjb.net, kursorku keluar gambar HP (mobilephone) bila digerakkan. Silakan lihat. Bila berminat scriptnya aku akan copykan.
Posted by muhammad on Mar 19, '07 6:18 AM for everyone Kalau sebelumnya kupaparkan kode html biar blog bisa diterjemahkan berbagai bahasa, kini aku dapatkan kode agar situs anda bisa ngelink dengan situsku. Kalo berminat, silahkan paste kode di bawah ini ke dalam blog anda (terutama yang pakai www.blogspot.com, masukkan ke Add Page a Element Add HTML
<script language="JavaScript"> <!-- Original: Sven David Hildebrandt (shildebr@online.no) --> <!-- Web Site: http://home.hia.no/~sdhild99 -->
<!-- This script and many more are available free online at --> <!-- The JavaScript Source!! http://javascript.internet.com -->
<!-- Begin function goToURL() { window.location = "http://www.mobilephone.cjb.net"; } // End --> </script>
<form> <input value="INFO MOBILEPHONE (HP)" onclick="goToURL()" type="button"/> </form>
Posted by muhammad on Mar 19, '07 5:53 AM for everyone
Posted by muhammad on Dec 18, '06 10:14 PM for everyone Kalau saja Radio Labamba FM (sebelumnya Labama) tidak meminta Radar Tegal mengisi on air soal Hak Asasi Manusia (HAM), Minggu (10/12) pekan lalu, kalau saja Radar Tegal tidak mengutus saya mengisi acara di Labamba itu, mungkin saya tidak banyak meluangkan waktu untuk menyimak UU NO 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UUD 45 yang telah diamandemen, terutama Bab X tentang HAM. Tugas dan kewajiban rupanya bisa memaksa seseorang untuk lebih tahu (atau sok tahu?) tentang suatu masalah. Dalam kedua undang-undang tersebut disebutkan secara jelas hak-hak asasi yang melekat pada manusia. Bahkan dalam UUD 45 Bab X, HAM dijabarkan mulai pasal 28 A sampai 28 J. Pasal-pasal hasil amandemen tadi telah dengan tegas merumuskan prinsip HAM yang mengatakan, setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan kehidupannya. Mengenai hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan, hak untuk mengembangkan diri, hak atas keadilan, hak kemerdekaan, kebebasan untuk memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, hak atas kebebasan informasi, hak keamanan, hak kesejahteraan, dan lain-lain. Dengan rumusan yang lebih rinci dan jelas mengenai HAM seperti itu, tentunya akan sangat membantu peran semua pihak dalam menunjang pemajuan dan perlindungan HAM. Yang menjadi pertanyaan, sudahkah pasal-pasal HAM tersebut dilaksanakan dengan baik? Bagaimana perlindungan HAM di Kota Tegal? Tentu tak mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, apalagi bagi saya. Tapi tidak ada salahnya khan kalau saya mencoba meneropong beberapa pasal itu dan menariknya pada peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di kota bahari ini. Hak untuk hidup dan mempertahankan hidup dan kehidupannya (Pasal 28 A). Wong Tegal tentu mempunyai hak ini, tapi beberapa kali pembunuhan terjadi di kota ini, salah satunya seorang SPG dibantai teman selingkuhan. Hak untuk mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan budaya (Pasal 28 C ayat 1), tapi coba lihat, beberapa anak-anak tidak bisa mendapatkan pendidikan karena keluarga tidak mampu. Mereka terjun menjadi anak jalanan, mengisi ruang-ruang stasiun, terminal dan beberapa sudut kota. Hak untuk bekerja dan mendapat imbalan serta perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja (Pasal 28 D ayat 3). Tapi bagi sebagian mencari kerja begitu sulit. Mereka menjadi pengangguran. Kalau pun telah bekerja, beberapa orang tidak mendapatkan imbalan yang layak. Upah mereka masih di bawah UMR. Bahkan ada yang harus di-PHK dan tidak mendapatkan pesongan yang layak. Ingatkah buruh pabrik kacang di Kota Tegal yang menjerit dan berjuang mendapatkan haknya? Hak untuk hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat (Pasal 28 H ayat 1). Bong Cina dan pinggiran rel kereta api tentu saja bukan tempat tinggal dan lingkungan hidup yang baik dan sehat, tetapi sampai saat ini beberapa warga di Kota Tegal terpaksa bertahan di wilayah itu. Coba saja lihat Bong Cina di Mintaragen Tegal Timur? Di wilayah itu telah menjadi tempat tinggal. Jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil dan perlakuan yang sama di depan hukum (Pasal 28 D ayat 1). Baru saja di Tegal telah terjadi 'drama' perlakuan yang tidak sama (boleh dikata istimewa) terhadap salah seorang tahanan. Di manakah perlakukan yang sama di depan hukum bila satu tahanan dibawa ke Rutan dengan mobil mewah, sementara yang lain tidak? Bukankah biasanya seorang tahanan dibawa ke rutan dengan mobil tahanan? Melihat kondisi semacam itu agaknya untuk menegakan HAM perlu adanya dukungan dari semua pihak, masyarakat, politisi, akademisi, tokoh masyarakat, dan pers, agar upaya penegakan hak asasi manusia bergerak ke arah positif sesuai harapan kita bersama. Di samping diperlukan niat dan kemauan yang serius dari pemerintah, aparat penegak hukum, dan elit politik agar penegakan hak asasi manusia berjalan sesuai dengan apa yang dicita-citakan. (*)
Posted by muhammad on Dec 12, '06 2:51 AM for everyone Hampir dalam waktu yang bersamaan, Minggu sampai Senin (3-4 Desember 2006), media di tanah air menyoroti berita adegan mesum yang diduga dilakukan oleh oknum anggota DPR RI dengan seorang artis dangdut dan berita Aa Gym menikah lagi. Dari kacamata pers, dua berita itu memang menarik karena menyangkut figur publik. Jadi jangan heran hampir semua media menayangkan berita itu. Terlepas dari itu, dari dua berita tersebut bisa ditarik benang merah bahwa berita itu muaranya pada hasrat lelaki terhadap wanita/perempuan, hanya beda cara menyalurkan hasrat. Sungguh sangat bertolak belakang. Ibarat hitam dan putih. Berita pertama, anggota dewan DPR RI yang bermesum dengan seorang artis, jelas pada posisi hitam. Dari kacamatan agama, hasrat terhadap wanita baru dikatakan halal ketika melalui ijab qobul pernikahan. Di luar itu haram. Perbuatan mesum yang dilakukan figur publik itu jelas haram karena dilakukan tanpa ada jalinan pernikahan. Yang jadi pertanyaan, mengapa dia masih menginginkan wanita lain selain istrinya? mengapa dia tidak menikahi saja wanita yang diinginkan itu? Apakah takut sama istri? Istrinya tidak rela dimadu? Apakah istrinya rela suaminya bermesum ria dengan wanita lain? Jawabannya tentu ada pada hati anggota DPRD dan istrinya itu. Berita kedua, bila patokannya pada hasrat kepada wanita, apa yang dilakukan Aa Gym tentu sudah berada di jalan halal. Dia menikahi secara resmi wanita yang ia inginkan, walaupun bisa jadi ada banyak motiv yang membelakanginya, selain hasrat sex. Yang tahu hanyalah Allah dan Aa Gym sendiri. Bila dibandingkan berita pertama, tentu saja itulah jalan putih yang dilakukan Aa Gym. Memang semuanya ada konsekuensi. Yang memilih jalan hitam dalam menyalurkan hasrat wanita dan yang memilih jalan putih dalam menyalurkan hasrat wanita tentu memiliki konsekuensi yang berbeda pula. Aa Gym pun sadar itu dan siap ditinggalkan pengagumnya. Bagi kaum wanita, mungkin bisa mengambil hikmah dua berita di atas. Eh siapa tahu suatu saat suaminya meminta izin akan menikah lagi. Atau milih suami bermesum ria dengan wanita lain. Duh pilihan yang sulit. Tulisan ini bukan ingin membandingkan poligami dengan selingkuh. Karena keduanya sangat jauh berbeda dan tentu tak setara, karena jelas tidak apple to apple. Ini hanya untuk memberi saran kepada lelaki yang kaya, dan berlibido tinggi, lebih baik poligami saja. Bukannya melacur, atau selingkuh sana sini. Tapi lebih baik satu istri saja deh. Kan kamu masih belum bisa adil. Oke
Posted by muhammad on Oct 26, '06 5:47 AM for everyone Perempuan dan Pers
Isu jender akhir-akhir ini semakin ramai dibicarakan. Jender adalah suatu istilah yang relatif masih baru. Kata gender itu sendiri berasal dari bahasa Inggris berarti "jenis kelamin" dan belum masuk dalam perbendaharaan Kamus Besar Bahasa Indonesia, tetapi istilah tersebut sudah lazim digunakan, khususnya di Kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita dengan istilah "jender". Jender diartikan sebagai "interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan. Jender biasanya dipergunakan untuk menunjukkan pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan". Jender juga dapat diartikan suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi pengaruh sosial budaya. Gender dalam arti ini adalah suatu bentuk rekayasa masyarakat (social constructions), bukannya sesuatu yang bersifat kodrati. Kalau gender secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya, maka sex secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. Istilah sex (dalam kamus bahasa Indonesia juga berarti "jenis kelamin") lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek biologi seseorang, meliputi perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan karakteristik biologis lainnya. Sedangkan gender lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek non biologis lainnya. Studi gender lebih menekankan pada aspek maskulinitas (masculinity) atau feminitas (femininity) seseorang. Berbeda dengan studi sex yang lebih menekankan kepada aspek anatomi biologi dan komposisi kimia dalam tubuh laki-laki (maleness) dan perempuan (femaleness). PEREMPUAN DAN PERS Hal yang tidak bisa dibantah bila media massa mempunyai peran sangat signifikan dalam proses sosialisasi kesetaraan dan keadilan jender. Signifikansi peran media massa juga terletak pada eksistensinya sebagai salah satu tonggak demokrasi, yang sekarang menjadi mainstream. Salah satu pilar demokrasi adalah adanya ruang publik yang bebas (a free public share) dan penghargaan terhadap hak azasi manusia. Salah satu perwujudannya adalah penghargaan terhadap hak-hak perempuan dan persamaan (equality). Diakui, potret diri perempuan di media massa, seperti surat kabar, majalah, film, televisi, iklan dan buku, masih memperlihatkan stereotype yang merugikan. Perempuan masih digambarkan sebagai sosok yang pasif, tergantung pada laki-laki, didominasi, menerima keputusan yang dibuat laki-laki, dan terutama melihat dirinya sebagai simbol seks. Pada umunya media massa sedikit sekali memunculkan isu tentang perempuan, adalah kenyataan yang benar terjadi. Jika pun ada, media cenderung memberi ruang hanya bagi hal-hal yang bersifat tradisional atau urusan perempuan, seperti rumah tangga, mode, mengurus keluarga dan anak. Jarang media menampilkan wanita karier yang sukses di sektor publik. Media massa yang diharapkan bisa mensosialisasikan masalah jender kepada masyarakat luas, ternyata masih kurang sensitif terhadap masalah tersebut. Bahkan yang terjadi, hampir setiap hari masyarakat ditaburi dengan berbagai tayangan televisi soal kehidupan selebriti yang berkisar dari soal pacaran, perkawinan, kelahiran anak, perceraian, dan kematian. Belum lagi puluhan tabloid di sekitar yang menjajakan banyak hal yang berkaitan dengan dunia selebriti, seolah-olah selebriti itu adalah dunia yang perlu dicermati sedemikian detail tiap sisi kehidupannya dan perlu jadi panutan bagi para pembaca atau penontonnya. Memang ada hukum di antara orang-orang pers bahwa salah satu syarat berita yang layak adalah jika menyangkut tokoh penting (name makes news). Kalau definisi layak berita salah satunya adalah menyangkut soal nama-nama besar, memang menurut sejumlah orang media, dua kasus yang diangkat dalam permulaan tulisan, masuk dalam kategori berita pula. Fenomena kehidupan artis yang diangkat ke permukaan lewat media massa bukanlah perkara baru. Itu sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu, dan sebagaimana definisi berita diungkap di atas, maka sejak pemberitaan dijadikan industri hal tentang kehidupan artis pun menjadi akrab dengan pembacanya. Namun, fenomena makin maraknya kehidupan pribadi diangkat ke permukaan, tak bisa dilepaskan dari maraknya industri media di Indonesia selepas represi puluhan tahun di bawah rezim Soeharto. Memang membaca kehidupan artis-yang dibayangkan masyarakat sebagai dunia gemerlap, penuh kecantikan, kegantengan, dan kekayaan materi-sangatlah menarik. Masyarakat selalu ingin tahu macam apa kehidupan pribadi seorang artis yang di layar kaca tampil dengan sangat meyakinkan dan tampil sangat cantik. Memang, salah satu fungsi media ketika ia dirumuskan adalah juga untuk memberikan hiburan kepada masyarakat. Tayangan atau bacaan seperti itu hanyalah mengukuhkan stereotyping media terhadap perempuan yang tidak adil, tidak seimbang, dan menjadikan perempuan korban dalam sorotan media. Bias jender macam begini bukanlah baru, tapi justru perkembangan menunjukkan bahwa fenomena ini makin menekan para perempuan dan mengukuhkan citra dominasi atau tirani media atas perempuan, khususnya dalam dunia hiburan. Kapitalisasi industri media pada akhirnya menjadi latar makin terpinggirkannya para perempuan dalam media. Sudah saatnya, masyarakat lebih jeli dalam menyeleksi konsumsi media yang ada di sekitar kita dan tak menelannya bulat-bulat. Berita-berita yang seolah-olah menghibur itu sering kali ibarat candu, terasa nikmat sehingga melupakan kita dari berbagai soal serius yang seharusnya memang kita hadapi. Pertanyaanya, apa kita memang mau terbius terus-menerus dengan hiburan-hiburan di sekitar kita? Tragisnya, masyarakat menganggap semua yang ditampilkan media massa merupakan cermin realitas sosial, menjadi aksioma yang tidak perlu diragukan lagi kebenarannya. Terdapat hal yang perlu dievaluasi terhadap pandangan tersebut. Pertama, menganggap media sebagai cermin realitas sosial berarti melihat institusi media hanya bersikap pasif. Ini berarti berbagai kompleksitas persoalan dalam lembaga media massa sama sekali tidak diperhatikan. Padahal, media merupakan organisasi sosial yang secara internal memiliki standar kualitas penilaian, struktur, dan hierarki dalam menjalankan mekanisme kerjanya. Kedua, pandangan itu berarti juga menganggap media merupakan lembaga kemasyarakatan yang sepenuhnya dapat bekerja otonom. Padahal, otonomi yang dimiliki media hanya bersifat relatif karena sangat ditentukan situasi sosiologis dan historis yang melingkupinya. Dengan demikian, pemahaman ini membawa kita pada konklusi tegas bahwa apa pun yang ditampilkan media bukanlah cermin realitas sosial. Pengertian ini mempunyai implikasi lebih jauh lagi ketika persoalan utamanya justru terletak pada bagaimana media menyajikan kembali realitas sosial yang dilaporkannya. Inilah yang disebut sebagai politik representasi media. Representasi yang dijalankan media berarti menghadirkan lagi berbagai fakta dan apa yang dianggap sebagai realitas sosial. Mekanisme serta pilihan politik representasi yang dijalankan media memberi penegasan bahwa secara intra-organisasi, media pasti bersikap aktif dan bahkan penuh kontradiksi serta konflik di dalamnya. Sementara secara ekstra-organisasi, media bersifat interdependen karena saling memengaruhi dengan berbagai institusi sosial lain di luar dirinya. Tentu saja pertanyaan besarnya adalah bagaimana representasi realitas sosial dalam media dapat dibandingkan dengan realitas sosial yang "nyata"? Pertama, representasi merupakan hasil seleksi yang bersifat sangat beragam. Ini berarti dalam representasi itu ada aspek realitas yang sengaja ditonjolkan dan ada aspek lain yang sengaja diabaikan. Dengan demikian, semua representasi yang dilakukan media berarti menghadirkan kembali realitas sosial secara sempit dan tidak pernah utuh. Kedua, media biasanya tidak mencoba merefleksikan (sebagaimana cermin yang mampu memantulkan) realitas sosial "nyata" karena keterbatasan waktu, ruang, dan berbagai persoalan lain menyangkut kebijakan pihak pengelola media. Ketiga, realitas sosial yang memiliki klaim "nyata" dan "benar" itu mempunyai problem tersendiri secara terminologi. Di sini kita dapat mengikuti mode pemikiran kalangan penganut aliran konstruksionisme yang menegaskan tidak ada representasi yang "nyata" dan "benar" secara keseluruhan. Ini disebabkan kita tidak terhindarkan selalu menciptakan sudut pandang untuk memasukkan dan menyingkirkan sejumlah komponen realitas sosial berdimensi banyak. Tahap yang tidak kalah penting adalah membahas dan juga mengungkapkan berbagai persoalan lain secara operasional: bagaimana media menyajikan kembali realitas sosial sebagai pelaksanaan politik representasi yang dianutnya? Mengapa perempuan disubordinasikan dalam politik representasi media? Politik representasi media memberi penegasan bahwa dalam memproduksi realitas, pihak media sudah menciptakan konstruksi serta sudut pandang tertentu terhadap realitas sosial yang dihadapi. Semua ini terjadi dalam tatanan bersifat hierarkis serta berlangsung simultan melalui berbagai mekanisme berikut. Pertama, tingkatan individual. Pada tahap ini, sikap, kepentingan, dan latar belakang keyakinan seorang praktisi media dianggap mempunyai pengaruh dalam menciptakan konstruksi sosial. Artinya, seorang praktisi memiliki orientasi nilai tertentu dalam berhadapan dengan realitas yang sedang terjadi. Seseorang praktisi televisi yang memiliki pemahaman serta kesadaran jender yang baik jelas sangat berlainan dengan praktisi yang berwatak misoginis (benci perempuan) dalam menghadapi realitas sosial. Kedua, tingkatan rutinitas. Ini merupakan tahap ketika praktisi media sudah dibiasakan menjalani pekerjaan dengan prosedur pasti dan teratur. Misalnya saja pedoman yang berlaku bagi praktisi di bidang jurnalisme televisi yang menyatakan berita berasal dari fakta sosial, tetapi tidak setiap fakta sosial dapat dijadikan berita. Untuk menetapkan fakta sosial yang layak ditulis sebagai berita, jurnalis harus mengerti benar tentang nilai berita sehingga fakta sosial yang mengandung salah satu atau sejumlah nilai, seperti aktualitas, konflik, konsekuensi, popularitas, kedekatan, kejanggalan, drama, dan kelucuan, layak tampil sebagai berita. Celakanya, dalam persoalan menyangkut nilai berita, sosok perempuan sekadar diposisikan sebagai objek atau korban belaka. Ketiga, tingkatan organisasi. Ini berarti tujuan dan kebijakan organisasi yang lebih besar merupakan kekuatan yang tidak dapat dielakkan. Jadi, representasi yang dijalankan media bukan hasil kerja bersifat perseorangan, melainkan kerja kelompok yang menunjukkan aspek kolektivitas. Bukan jaminan ketika secara kuantitas jumlah perempuan yang menjadi praktisi media sangat tinggi, maka secara otomatis media akan berpihak kepada perempuan dan mampu memperjuangkan kesetaraan jender. Keempat, tingkatan esktramedia. Hal ini berarti berbagai kekuatan dan juga kekuasaan dari pihak luar sangat memengaruhi kinerja media. Kekuatan dalam pengertian ini bukan terbatas pada persoalan politik saja yang terkesan represif dan serba membatasi, seperti kekuasaan negara, tetapi juga kekuatan lain yang boleh jadi bersifat intimidatif (demonstrasi dan ancaman pendudukan dari kelompok sosial tertentu), ekonomi-politik (kepentingan finansial dan permodalan dari pemilik media), maupun yang berkaitan dengan persoalan profit (pemasang iklan dan selera masyarakat). Kelima, tingkatan ideologis yang secara menonjol lebih berhubungan dengan tuntutan dan kepentingan sosial masyarakat secara lebih luas. Jika sistem dan ideologi patriarki masih dominan, tentu saja media tidak akan mampu terlepas begitu saja dari kekuatannya yang mencengkeram. Bahkan, ketika representasi itu untuk membela kaum perempuan yang tertindas, bisa-bisa media bersangkutan dinilai menyebarkan gagasan yang keluar dari "kodrat" yang dikehendaki Tuhan. Atau, setidaknya, dianggap melakukan tindakan terlalu dicari-cari dan mengada-ada karena mempersoalkan suatu problem secara tidak proporsional. Wallahu a'lam.
Posted by muhammad on Oct 20, '06 6:27 AM for everyone

Salam kenal dan semoga rahmat Allah selalu menyelimuti semua anggota milis. Pada bulan Ramadan yang penuh hikmah ini, saat kerongkongan terasa kering, perut mulai lapar, kusempatkan membuat humor sufi. Barangkali sudah banyak yang mengenal tokoh sufi Nazarudin, namun saya ingin mengenalkan toko baru dalam humor sufi saya, yakni Sulaiman. Semoga bermanfaat.
Palu Hakim
Sulaiman pagi-pagi sudah sibuk. Di pelataran rumahnya, Sulaiman mematik api dan menyulut beberapa kertas, dan kayu. "Sedang apa, ente?" tanya Ahmad, yang kebetulan lewat depan rumah Sulaiman. Sulaiman hanya tersenyum. Dia terus saja menumpuk kayu-kayu yang sudah menyala api. "Buat apa itu?" tanya Ahmad makin penasaran dengan sang sufi itu. "Saya sedang membakar palu!" Kontan jawaban tersebut membuat Ahmad kian tidak bisa mengerti. "Ini palu hakim yang kemarin memutuskan perkara dengan tidak adil. Biarlah saya bakar palunya," jawab Sulaiman. (duh)
Makna Bismillah
Tak seperti biasanya, Sulaiman menerima tawaran ceramah. Ini sungguh istimewa. Boleh dikata sangat beruntung majelis taklim tersebut dapat mengundang Sulaiman untuk ceramah. Bagaimana tidak, selain alim, Sulaiman dikenal cerdik dan kesufiannya cukup tinggi. Para pengunjung sudah tak sabar bagaimana Sulaiman memberikan mauidhotul khasanah. Setelah mengucapkan salam, tiba-tiba Sulaiman menanyakan kepada hadirin. "Sudahkah yang hadir di sini tahu arti bismillah?" Hadirin yang rata-rata terpelajar dan cukup santri itu serentak menjawab. "Tahu..." Mendengar jawaban itu, Sulaiman segera turun dari panggung sambil berkata. "Saya hanya akan mengajari kepada yang belum tahu." (duh)
Murka Allah
Sulaiman masih duduk terpekur di kursi depan rumahnya. Tiba-tiba Umar datang memberi kabar. "Aceh kena tsunami." "Itu karena murka Allah," jawab Sulaiman singkat. Esok harinya, Umar kembali datang dan memberi kabar. "Merapi mau meletus." "Itu karena murka Allah," jawab Sulaiman. Esoknya lagi, Umar datang pada kondisi yang sama dan langsung memberi kabar. "Jogja kena gempa!" "Itu karena murka Allah," jawab Sulaiman sama seperti sebelumnya. Lagi-lagi Umar datang pada saat Sulaiman duduk terpekur di kursi depan rumahnya. "Saya mau menikahkan anak saya." "Itu karena murka Allah." Mendengar jawaban itu, Umar mau marah. Namun urung saat melihat Sulaiman masih terpekur dengan mata terpejam. (duh)
Diskon Satu Rakaat
Suatu hari, Sholeh mendapati Sulaiman salat ashar di musala. Namun dari pengamatan Sholeh, Sulaiman kurang satu rakaat. Dia pun segera mengingatkannya. Sulaiman mendapat peringatan itu, segera menambah satu rakaat lagi. Hari berikutnya, Sholeh juga mendapati hal yang sama. Sulaiman kembali kurang satu rakaat dalam salat ashar. Dia pun mengingatkannya. Sulaiman juga menambah satu rakaat lagi. Hari ketiga, Sholeh masih mendapati Sulaiman kurang satu rakaat dalam salat ashar. Tak putus asa, Sholeh mengingatkan Sulaiman kembali. Dan Sulaiman pun manut menambah satu rakaat lagi. Selepas Sulaiman salam, Sholeh tak bisa menahan rasa penasaran mengapa sufi itu selalu kurang dalam salat asarnya. "Maaf, mengapa anda selalu kurang satu rakaat dalam salat ashar?" Sulaiman pun menjawabnya. "Salat memang tidak boleh dikurangi maupun ditambah. Anda saja tak sudi saya berusaha mendapat diskon satu rakaat, sehingga Anda selalu saja protes." (duh)
Lebih Bersih
Sulaiman bersama Nurdin mendatangi undangan. Sampai di tempat tujuan, Nurdin memilih duduk di samping orang yang setil dan terhormat. Sementara Sulaiman lebih memilih duduk di samping orang yang biasa-biasa saja, melarat dan kotor. Nurdin heran dengan Sulaiman yang cukup betah ngobrol dengan orang tersebut. Sepulang dari pertemuan, Nurdin menyempatkan diri bertanya kepada Sulaiman. "Mengapa Anda memilih duduk dekat dengan orang yang kumal?" "Setidaknya baju putih saya yang sudah lusuh ini nampak lebih bersih." (duh)
Bersyukur dan Bersabar
Sulaiman suatu hari menghadiri undangan pernikahan kerabatnya. Dia langsung menuju di mana kerabatnya tengah bersanding dengan istrinya. Di hadapan mempelai pria, Sulaiman berujar, "Insya Allah engkau masuk surga." Begitu pula ketika di hadapan mempelai perempuan. "Insya Allah engkau masuk surga." Seorang tamu undangan yang mendengar ucapan Sulaiman penasaran dan langsung bertanya. "Mengapa bisa begitu?" "Mempelai pria masuk surga karena bersyukur mendapat istri yang cantik. Sementara mempelai perempuan masuk surga karena bersabar mendapat pasangan yang buruk rupa. Bukankah orang yang bersabar dan bersyukur masuk surga?" (duh)
Wudlu
Pagi-pagi, Sulaiman mendapati Ghoni, pemuda yang suka ngeyel. Kalau boleh menampar saja, Sulaiman ingin sekali mendamprat mulut Ghoni yang compras-campres. Pagi itu, sifat Ghoni keluar. "Orang berwudlu itu aneh. Masak kentut, kok yang dibasuh dengan air bagian muka, tangan, kaki, telinga, hidung. Sumber kentutnya kok nda dicebokin. Ini bagaimana?" ujar Ghoni di hadapan Sulaiman. Sulaiman sendiri ogah melayani Ghoni dan lebih memilih melanjutkan jalan-jalan pagi. Suatu hari, Ghoni ketemu Sulaiman dan mengeluhkan matanya yang sakit parah. Matanya sangat merah. Sulaiman pun berjanji akan menolongnya dengan mendatangkan dokter. Begitu dokter datang dan siap mengobati Ghoni, Sulaiman berpesan kepada dokter. "Dok, tolong karena yang sakit matanya, suntiklah bagian mata itu. Jangan di pantatnya." "Lho kok?" tanya dok. "Biar Ghoni mendapatkan jawaban sendiri soal wudlu." (duh)
Cerai
Sulaiman menjelang sore hari mendapat kabar dari istrinya, bila Mahmud, tetangga yang sering cek cok akan bercerai. Jadi wajarlah, pasangan berumah tangga itu memilih jalan cerai. "Mahmud akhirnya akan bercerai," tutur istri Sulaiman. "Sama siapa?" Tentu saja istri Sulaiman bersungut-sungut mendengar pertanyaan suaminya. Baginya, itu pertanyaan bodoh. "Lho gimana? kok cerai sama siapa? ya tentu sama istrinya dong? sih sama Kambing ," ujar istrinya yang merasa aneh dengan pertanyaan Sulaiman. "Karena sudah jelas cerai sama istrinya, saya tak tanyakan itu. Yang belum jelas dan perlu saya tanyakan, sama siapa dia akan nikah lagi." (duh)
Antara Membuat Masjid dan Keranda
Pada suatu rapat pembangunan masjid di kampungnya, Sulaiman tiba-tiba mengemukakan pendapatnya. "Sebelum masjid dibangun, ada baiknya kita renungi pembuatan keranda," tutur Sulaiman. Tentu warga dan panitia pembentukan masjid agak heran dan bingung dengan pernyataan Sulaiman. Apa hubungannya antara mendirikan masjid dengan membuat keranda, pikir mereka. Sampai akhirnya ada salah satu warga yang memberanikan bertanyakan kepada Sulaiman. "Apa hubungannya membuat masjid dan membuat keranda?" "Keranda dibuat dengan bagus pun jarang yang mendekati kecuali ada yang meninggal dunia. Bila masjid yang kita bangun tegak berdiri namun jarang dan sedikit yang mendekati, maka sama seperti kita membangun keranda." (duh)
Mengetahui Takdir
Sulaiman ingin pohon dekat di rumahnya tidak terlalu rindang dan batang-batangnya menyentuh genting rumahnya. Mulailah dia memotong cabang-cabang batang yang menjulur ke rumahnya. Dirman, tetangganya melihat Sulaiman memotong cabang batang dengan gergaji, namun Sulaiman nangkring tepat di cabang itu. Dirman berteriak mengingatkan Sulaiman. "Kalau kau terus memotong cabang itu, engkau akan jatuh...!" teriak Dirman. Sulaiman tak menghiraukan peringatan tetangganya itu. Dia terus saja memotong cabang batang itu sampai akhirnya Sulaiman benar-benar jatuh dari pohon. Di tengah rintihannya, Sulaiman berkata, "Wah engkau alim sekali sampai mengetahui lebih dahulu takdir yang akan menimpa saya." (duh)
NB: duh, kata dalam kurung itu inisialku: muhammad abduh
Posted by muhammad on Oct 20, '06 3:34 AM for everyone Diterbitkan : PT. Wahana Semesta Tegal Komisaris Utama : H. M. Alwi Hamu Komisaris : Lukman Setiawan Penasihat : Dahlan Iskan Direktur Utama : H. Mahtum Mastoem Direktur Pelaksana : Yanto S. Utomo Wkl. Dir. Pelaksana : Moh. Sukron Pemimpin Umum : Moh. Sukron Pemimpin Redaksi : Nur Muktiadi Redaktur Pelaksana : Wawan Setiawan Koordinator Liputan : Redaktur : M Abduh, Embong Sriyadi, Iman Teguh S Liputan Tegal : Hermas Purwadi, Abidin Abror, M Saekhun, Hesti Prastyani, M Riza Pahlevi Liputan Slawi : Zuhlifar Arrisandy Sekretaris : Dwi Titi Lestari Redaksi/Perusahaan Perwakilan Pekalongan : M Arifin (Koordinator), Abdurrahman Perwakilan Batang : Perwakilan Kab. Pekalongan : Perwakilan Pemalang : Tatang Kirana (Koordinator), M Tri Atmodjo Perwakilan Jakarta : Azwir AR, Arif Badi K, Eko Suprihatmoko Pracetak : Feri Setiawan (Koordinator), Dian Prayudi Aji, Mohammad Yahya, Dedi Irawan, Roni Istanto Iklan/Promosi : Samsu Rijal (Kepala Bagian), Arifudin Yunianto (Koordinator), Yully Trieyani, Riyanto, Kharisma Dewi Pemasaran : Suyuti Abdul Ghofir (Kepala Bagian), Yuyuk Darwati, Umaman Sahareka, Nurali, Muhtarom, Muslih, Sutarjo Keuangan : Yela Rahmadiah, Lita Rahmiati, Mubin, Djuhaeri Effendi Promosi (Off Print) : Taufiq Ismail, Ferdinan Syah Alamat Redaksi/Pemasaran/ Tata Usaha : Jl. Kapten Sudibyo No. 47, Telp. (0283) 323383, Fax. (0283) 351689 Perwakilan Pekalongan : Jl. KH Mansyur No 156 Telp. (0285) 425123 Perwakilan Jakarta : Komplek Widuri Indah Blok A-3 Jl. Palmerah Barat No. 353 Jakarta 12210, Telp. (021) 5330976, 533321, Fax. (021) 5322629
Alamat Redaksi : Jl. Kapt. Sudibyo No. 47 Tegal, Jawa Tengah, Indonesia Telp. (0283) 323383, Fax. (0283) 351689
| |